Assalamu'alaikum... Selamat Datang di Mirza's Blog **** * **** SELAMAT DAN SUKSES! MUKTAMAR XI JAM'IYYAH AHLITH THORIQOH AL-MU'TABAROH AN-NAHDLIYYAH tanggal 10-14 Januari 2012 di PP. Al-Munawwariyah Bululawang, Malang, Jawa Timur


07 Juli 2011

Mengenang "Dai Sejuta Umat"

Kaget sekali saya mendengar kabar ini. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Sang "Dai Sejuta Umat", KH. Zainuddin MZ berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 5 Juli 2011 pukul 10.00.


Beliau adalah seorang da'i favorit untuk saya dalam berdakwah. Saya mengenal beliau dahulu lewat radio, setiap hampir maghrib dan awal subuh ceramah beliau selalu bergema di udara. Saya pertama kali melihat wajah beliau di program "Tabligh Akbar" di Indosiar ketika Ramadhan pada tahun-tahun terdahulu. Dan saya tahu ketika beliau berceramah dan meresmikan masjid di SMKN 1 Singosari.


Tak ketinggalan setiap menjelang berbuka puasa di tahun-tahun sebelumnya, dan setiap hari Minggu, beliau muncul lagi di televisi, khususnya bersama Habib Munzir Al Musawa dan Ustadz Jefri Al Bukhari di Program "Damai Indonesiaku" di tvOne.


Sangat kehilangan. Itu saja yang bisa saya rasakan sekarang.


Biografi singkat
Zainuddin Muhammad Zein yang lebih kita kenal dengan KH Zainuddin MZ, Da'i Sejuta Umat yang tutup usia pada umur 59 tahun [2 Maret 1952 - 5 Juli 2011]. Pria kelahiran Jakarta ini sangat dikenal oleh jutaan Masyarakat indonesia maupun manca Negara lewat ceramah dakwahnya yang khas. Jika kamu sering mendengar bagaimana pidato Bung Karno, maka seperti itulah nada yang menjadi ciri khas KH Zainuddin MZ saat ceramah.


Bakat pidato KH Zainuddin MZ memang sudah terlihat sejak masih kanak-kanak. Sangat terlihat dari hobinya ngebanyol ataupun mendongeng. Bakat ini terus menjadi terarah menjadi bakat pidato sejak sekoalh di MTS dan MA Darul Ma'arif. Sejak saat itulah KH Zainuddin MZ remaja mulai dikenal.


Mungkin sebagian orang tidak tahu jika KH Zainuddin MZ adalah seorang sarjana. Tapi itulah kenyataannya. Setidak beliau sudah melewati satu jenjang pendidikan penting saat ini yaitu S1 IAIN Syarif Hidayatullah jakarta. Selain itu sebuah gelar kehormatan dari Universitas Kebangsaan Malaysia berupa Dr Hc [Doctor Honoris Causa].


Kepiawaian ceramahnya sempat mengantarkan Zainuddin ke dunia politik. Pada tahun 1977-1982 ia bergabung dengan partai berlambang Ka’bah (PPP). Jabatannya pun bertambah, selain da’i juga sebagai politikus. Selain itu, keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi ketua umum PB NU itu salah seorang deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete.


Beliau ditunjuk untuk memegang beberapa kendali pada tampuk PPP walaupun kemudian terpecah dan menjadi ketua umum Partai Bintang Reformasi. Semua karir politik ini didapat karena citra dan prestasinya di bidang dakwah yang membuat banyak umat menyukai. Sayangnya, seluruh karir politik ini tidak lama di geluti KH Zainuddin MZ. Mungkin karena keterbatasan kemampuan beliau, atau mungkin juga tidak sanggup karena selalu bertabrakan dengan hati nuraninya. Tidak dipungkiri, "politik itu kejam" yang notabene berbanding terbalik dari apa yang KH Zainuddin MZ lakoni selama ini, yaitu dakwah.


Dan sebatang pohon yang tinggi pasti terpaan angin juga akan terasa kencang. Begitulah yang dirasakan KH Zainuddin MZ ketika mendapat cobaan aib tentang affair dengan seorang gadis.


Sejak mundur dari dunia perpolitikan, kharisma beliau sebagai seorang dai mulai bersinar kembali. Ceramah beliau mulai terdengar kembali, baik di pengajian maupun di televisi.


Empat tokoh dibalik Layar
Dalam buku "KH Zainudin MZ: Dai Sejuta Umat" tergambar dalam dirinya menyatu empat figur tokoh Indonesia yang fenomenal. Pertama, Soekarno. Sejak kecil KH Zainudin MZ mengagumi gaya orator Bung Karno yang tampil berani, gagah dan dapat memikat perhatian berjuta-juta rakyat Indonesia. Buku-buku maupun majalah yang mengupas tentang pemikiran bung Karno tak pernah lepas dari kehidupan KH Zainudin sejak usia sekolah.

Di kala usianya masih 5 tahun, KH Zainudin MZ kecil memiliki hobi mengikuti Ibunya Zainabun ke pasar. Postur tubuhnya dengan kulit putih dan mata sipit membuat gemas para pedagang Cina di Pasar.
Di tengah-tengah kegaduhan pasar itulah, KH Zainudin MZ kecil kerap naik di atas meja milik pengusaha Cina. Dengan mimik muka serius, KH Zainudin MZ kecil menirukan gaya pidato bung Karno. Hobinya naik meja dan berpidato dengan suara lantang juga dilakukan di depan para tamu yang kerap bertandang ke rumah kakek-neneknya.

Kedua, KH Idham Khalid. KH Zainudin MZ bersentuhan langsung dengan pemimpin NU (1952-1984) ini ketika menuntut ilmu di Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Aliyah Perguruan Darul Ma’arif yang dipimpin langsung oleh KH Idham Khalid. Semua tindak-tanduk KH Idham Khalid menarik perhatian KH Zainudin MZ. Kala itu KH Idham Khalid dikenal sebagai singa podium meski bertubuh kecil.

Dalam buku "KH Zainudin MZ: Dai Sejuta Umat" terbitan tahun 1994 ini, KH Zainudin MZ mengkisahkan ada seorang ulama yang dicintai umatnya. Ketika sang ulama tersebut dalam tausiyahnya (pidatonya) menceritakan kesedihan, hampir semua jama’ah menangis. Dan jika sang ulama tersebut mengkisahkan kabar gembira, semua jama’ah juga nampak wajah berseri.

Ulama seperti ini menurut KH Zainudin adalah ulama yang patut diteladani karena keikhlasannya, karena kedalaman ilmunya, karena kedekatannya pada Allah. Penulis baru memahami ulama yang dimaksud oleh KH Zainudin MZ adalah guru yang dihormatinya di Perguruan Darul Ma ’arif tersebut.

Selain dikenal sebagai singa podium, KH Idham Khalid juga dikenal sebagai pelobi ulung. Bakat sebagai orator dan pelobi ulang KH Idham Khalid secara perlahan-lahan dipelajari oleh KH Zainudin MZ kecil.
Di banyak kesempatan saat-saat sekolah di Perguruan Darul Ma'arif, KH Zainudin MZ kecil sering tampil di hadapan teman-temannya dengan beragam "guyonan" khas Betawi. Dalam setiap kali tampil, KH Zainudin MZ kecil dapat memukau perhatian teman-temannya.

Ketiga, Buya HAMKA. Sejak muda, KH Zainudin MZ sangat gandrung dengan karya-karya sastra HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Ketertarikan KH Zainudin MZ pada sosok HAMKA bukan semata karena sang tokoh adalah sastrawan.

Selama hidupnya HAMKA selain dikenal sebagai sastrawan Indonesia, juga sekaligus ulama, dan aktivis politik. Dari karya-karya HAMKA yang memuat tentang sastra Indonesia inilah, sosok KH Zainudin MZ belajar bagaimana memilih dan memilah bahasa yang sesuai dengan "diksi", bahasa yang kelak digunakannya untuk "mencubit" namun tidak merasakan sakit.
HAMKA yang dalam hidupnya otodidak dalam ilmu pengetahuan mengilhami KH Zainudin MZ juga melakukan hal yang sama. Apa yang dipelajari HAMKA mulai dari filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat juga dipelajari oleh KH Zainudin MZ.

Termasuk kemahiran HAMKA dalam bahasa Arab juga menginspirasi KH Zainudin remaja. Karya-karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah yang tuntas dipelajari HAMKA, juga dilanjutkan oleh KH Zainudin MZ di usia muda seperti karya-karya Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal.

Keempat, KH Syukron Makmun. Pimpinan pondok Pesantren Darul Rahman Jakarta Selatan ini juga idola KH Zainudin MZ. Keberanian KH Syukron Makmun mengilhami proses pembelajaran KH Zainudin MZ membentuk karirnya di atas podium. KH Syukron Makmun dikenal sebagai ulama yang berani mengkritik pemerintah Orde Baru.

Dalam sebuah cerita dari para santri-santrinya, KH Syukron Makmun kerap menjadi sasaran tembakan mesterius namun berkat kedekatannya sang Kiai kepada Allah tembakan tersebut tidak pernah kena sasaran. Selain berani, KH Syukron Makmun juga dikenal sebagai ulama yang disiplin dalam mendidik para santrinya.KH Zainudin MZ sejak mudanya berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai, bakat dan kelebihan dari masing-masing empat figur tersebut di atas dalam kepribadiannya dan akhirnya lahirnya figur dai sejuta umat.

Pesannya yang bisa ditangkap dari buku "KH Zainudin MZ: Dai Sejuta Umat (1994)", bagi generasi muda adalah dalam rangka berproses "menjadi" kita bisa belajar dari kepribadian banyak tokoh yang punya pengalaman dan makan garam kehidupan, namun dalam "endingnya" kita harus tampil dengan kepribadian yang khas bukan jiplakan dari tokoh-tokoh tersebut.

Hal tersebut ada dalam kepribadian KH Zainudin MZ. Dalam seni orator, mungkin ia belajar dari Bung Karno. Soal nilai Islam dalam dakwah, KH Zainudin MZ belajar dari KH Idham Khalid. Dalam hal seni berbahasa, KH Zainudin MZ berguru otodidak dari pemikiran HAMKA. Dan keberaniannya mengkritik apapun, KH Zainudin MZ belajar dari KH Syukron Makmun.

Kehilangan
Sang "Dai Sejuta Umat", KH. Zainuddin MZ berpulang ke rahmatullah pada hari Selasa, 5 Juli 2011 pukul 10.00 akibat serangan jantung. Kabar ini mengejutkan bangsa Indonesia yang notabene saat sekarang ini membutuhkan dai seperti beliau.




Allah SWT mengabulkan doa KH. Zainuddin MZ, yang selalu ingin berada di tengah umat. Beliau disholati oleh ribuan orang hingga lima gelombang, padahal kapasitas masjid Fajrul Islam, masjid di depan rumah beliau itu adalah 1000 orang. Pemakaman beliau pun juga diantar ribuan umat yang sudah tak terbendung lagi banyaknya.


  1. http://blog.its.ac.id/syafii/2011/07/05/sebuah-biografi-kh-zainuddin-mz-mengenang-dai-sejuta-ummat-5-juli-2011/ 
  2. http://www.kutaikartanegara.com/newsphoto/kh_zainuddin_mz.jpg
  3. http://www.iskaruji.com/2011/07/biografi-kh-zainuddin-mz-mengenang-dai.html
  4. http://medan.jurnas.com/index.php?option=com_content&view=article&id=61684:kh-zainudin-mz-dan-4-tokoh-dibalik-layar-&catid=57:opini&Itemid=65
  5. http://www.hariansumutpos.com/wp-content/uploads/2011/07/zainuddin-mz.jpg
Semoga Amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT serta diampuni segala kesalahan dan kekhilafannya selama hidupnya, Amiin Ya Robbal Alamin...


اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واكرم نزله ولا تحرمنا اجره ولا تفتنا بعده
امين يارب العالمين 

ZAINUDDIN MZ.   1952-2011

0 komentar:

Poskan Komentar