Jadilah anak muda normal yang menikmati hidup dengan segala keindahan, terbuai angan dan hidup dibawah atap kesenangan dan kesantaian. Janganlah kamu terlalu berat dan susah. Hiduplah sebagai mana kamu anak normal. Punya pacar dan hidup dengan buaian cinta, cinta yang menikmatkan, mengisi hari-hari dengan luapan suka dan melupakan duka. Memenuhi keinginan dan tujuan untuk artis pujaan. Menghamba pada "Raja Serba Boleh" dan "Ratu Kebebasan". Bisikan syetan yang ini semakin kuat, akupun semakin lemah dan terhuyung-huyung layaknya dipukul kanan-kiri dengan jab, counter, upper cut dan sesekali mendapat tendangan maut.
Aku baru sadar kalau saat ini aku sedang tersudut, aku bagaikan tersungkur lemah di sudut ring dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terbuai oleh rayuan syetan la'natullah. Kupandangi diriku yang sudah kuyu, lemah, kalah dan penuh dosa. Aku ingin reborn...
Kuputar kembali memoriku, aku reset kembali ingatanku dan saat itu kutemukan bisikan lain, bisikan seindah wajah cantik bidadari penghuni surga. Lantunan bisikan itu kunikmati dengan sangat peka dan perlahan aku coba menancapkannya dalam hatiku.
اَللهُ الَّذِىْ خَلَقَكُمْ مِّنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةً ضَعْفًا وَ شَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَ هُوَ الْعَلِيْمُ الْقَدِيْرُ
"Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa." (Ar-Ruum : 54) Seketika kulihat tangan kecilku bergerak mengepal mengikuti hitungan wasit dari satu dan seterusnya.
Kembali, bisikan itu kembali, kali ini terdengar semakin keras, hampir berteriak.
يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرُكُمْ وَيُثَبِّتْ اَقْدَامَكُمْ
"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad : 7) Mataku terbelalak, kutatap tajam wajah syetan durjana, musuh besarku. Aku berkata pada diriku, Ya Allah, temani diriku, bantu aku mengalahkan musuhku dan musuh agama-Mu. Kembali aku berikrar, "Aku harus menang dan syetan harus mati, Sekarang !!!"
Spontan aku berkata padanya, "Wahai syetan durjana, ketahuilah, kami adalah generasi pejuang, lahir dari rahim para mujahidah unggulan. Kami tak mengklaim sebagai orang paling sholeh, tetapi kami juga tidak memilih kemaksiatan sebagai jalan hidup kami. Kami tidak 'gila' amanah atau tamak pada tugas dan kekuasaan, namun kami juga tidak akan memilih membuang-buang waktu untuk kesia-siaan. Kami ingin berharga dan dihargai, bukan di mata manusia tetapi di mata Allah Subhanahu Wata'ala."
"Kami bukan pecundang yang merengek menangis bahkan bunuh diri karena ditinggal pergi wanita, bagi kami, air mata ini biarlah mengalir sederas sungai untuk taqarrub, mendekatkan diri pada Allah Ta'ala, kami bukanlah pemuda yang tergila-gila dengan artis pujaan, bagi kami hanya satu idola kami, Muhammad 'Al-Amin' SAW. Kalau apa yang kau sebut pemuda tidak normal seperti apa yang telah kami sebutkan, biarlah sejarah mencatat kami sebagai pemuda yang tidak normal !"
Aku mulai maju dan maju, kuayunkan tanganku bertubi-tubi dan mendarat di pipi, mata, dagu serta pelipisnya. Ia tak bergeming, tetap diam di tempatnya. Aku tak putus asa, kulancarkan pukulanku ke ulu hatinya seraya berteriak "Allahu Akbar", dan setan durjana itu pun tersungkur tak berdaya, nafasnya tersengal-sengal menunggu ajal. Ya Allah, terima kasih. Hari ini aku telah memenangkan pertempuranku, dan aku yakin Engkau akan tetap menolongku...(Disarikan dari 38 Generasi Unggulan, Dr. Majdi Al-Hilali, Gema Insani Press)